Minggu, 06 Januari 2013

ANALISIS KEUANGAN PT. ULTRA MILK JAYA



Analisis keuangan pt. ultra jaya milk
1.              Likuiditas
Current rasio
Tahun 2005
                          

Artinya, jumlah aktiva lancer pada tahun 2005 sebanyak 1,58 x utang lancer atau setiap Rp 1 utang lancer dijamin oleh Rp 1,58 harta lancer.

Tahun 2006
                          

Artinya, jumlah aktiva lancer pada tahun 2005 sebanyak 1,18 x utang lancer atau setiap Rp 1 utang lancer dijamin oleh Rp 1,18 harta lancer.

Tahun 2007
                          

Artinya, jumlah aktiva lancer pada tahun 2005 sebanyak 1,37 x utang lancer atau setiap Rp 1 utang lancer dijamin oleh Rp 2,37 harta lancer.

Seringkali dipakai standar rata-rata 200% atau 2:1 yang terkadang sudah dianggap memuaskan bagi perusahaan. Current ratio pada PT. Ultra Milk Jaya pada tahun 2005 ke tahun 2006 terjadi penurunan hingga perusahaan dianggap kurang baik. Pada tahun 2007 terjadi peningkatan melebihi dari rata-rata standar perusahaan sehingga bosa dikatakan sangat baik.


Quick ratio
Rata-rata industry untuk quick ratio adalah 1,5 x maka keadaan perusahaan pada tahun 2005 ke tahun 2006 mengalami penurunan sehingga perusahaan dikatakan kurang baik. Hal ini menyebabkan perusahaan harus menjual persediaannya untuk melunasi pembayaran utang lancer. Namun pada tahun 2007 terjadi peningkatan melebihi dari standar rata-rata industry sehingga perusahaan diakatan baik
 
Tahun 2005
                       

Tahun 2006
                        

Tahun 2007
                        

Cash ratio
Tahun 2005
                     
                    


Rata-rata industry untuk cash ratio adalah 50% kondisi perusahaan dari tahun 2005 ke tahun 2006 terjadi peningkatan namun pada tahun 2007 terjadi penurunan kondisi ini kurang baik bagi perusahaan karena untuk membayar kewajiban masih memerlukan waktu untuk menjual sebagian dari aktiva lancarnya.
 
 
Tahun 2006
                    
                    

Tahun 2007
                     
                    




Rasio perputaran kas

Tahun 2005
                          
                       

Tahun 2006
                          
                       

Tahun 2007
                           
                       

Rata-rata industry untuk perputaran kas adalah 10 x. pada tahun 2005 ke tahun 2007 terjadi peningkatan, ini berarti ketidak mampuan perusahaan  untuk membayar tagihannya. Namun pada tahun 2007 terkadi penurunan dibawah raya-rata, diapat diartikan kas yang tertanam pada aktiva yang sulit dicairkan dalam waktu singkat sehingga perusahaan harus bekerja keras dengan kas yang lebih sedikit







Inventory to net working capital
Tahun 2005
                          
                     
Tahun 2006
                                                                  
                       
Tahun 2007
                                                                 
                       
Rata-rata industry untuk inventory to net working capital adalah 12%. Keadaan perusahaan dari tahun ketahun meningkat walaupun pada tahun 2007 menurun namun tidak dibawah rata-rata jadi bisa dikatakan keadaan perusahaan baik

2.        Rasio solvabilitas (laverage)
Debt to asset ratio
Tahun 2005
                          
                   

Rasio ini menunjukkan 35% pendanaan perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya bahwa setiap Rp 100,00 pendanaan perusahaan Rp 35,00 dibiayai dengan utang dan Rp 35,00 disediakan oleh pemegang saham

Tahun 2006
                          
                   

Rasio ini menunjukkan 34% pendanaan perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya bahwa setiap Rp 100,00 pendanaan perusahaan Rp 34,00 dibiayai dengan utang dan Rp 34,00 disediakan oleh pemegang saham

Tahun 2007
                          
                   

Rasio ini menunjukkan 39% pendanaan perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya bahwa setiap Rp 100,00 pendanaan perusahaan Rp 39,00 dibiayai dengan utang dan Rp 39,00 disediakan oleh pemegang saham

jika rata-rata industry 35%, debt to asset ratio perusahaan ditahun 2005 normal atau baik, ditahun 2006 terjadi penurunan namun tidak membahayakan dan ditahun 2007 kembali meningkat bahkan diatas rata-rata jadi dapat dikatakan keadaan perusahaan baik sehingga perusahaan tidak sulit mendapatkan pinjaman.

Debt to equity ratio
Tahun 2005
                          
                   

Rasio ini menunjukkan bahwa kreditor menyediakan Rp 54,00 untuk setiap Rp 100,00 yang disediakan pemegang saham


Tahun 2006
                          
                   

Rasio ini menunjukkan bahwa kreditor menyediakan Rp 53,00 untuk setiap Rp 100,00 yang disediakan pemegang saham

Tahun 2007
                          
                   

Rasio ini menunjukkan bahwa kreditor menyediakan Rp 64,00 untuk setiap Rp 100,00 yang disediakan pemegang saham

Long term debt to equity ratio (ltdter)
Tahun 2005
                          
                   

Tahun 2006
                          
                   

Tahun 2007
                           
                   

Long term  debt to equity ratio merupakan rasio utang jangka panjang dengan modal sendiri. Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian dari setiap ruapiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan ca
a membandingkan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri yang disebabkan oleh perusahaan.

3.             Profitabilitas
Profit margin on sales
Untuk margin laba kotor
Tahun 2005
                       
              

Jika rata-rata industry 30% maka profit margin perusahaan baik karena tepat pada rata-rata standar industry perusahaan

Tahun 2006
                       
              

Jika rata-rata industry 30% maka profit margin perusahaan baik karena tepat pada rata-rata standar industry perusahaan

Tahun 2007
                       
              

Pada tahun 2007 terjadi penurunan namun tidak terlalu buruk karena hanya beda 1% dibawah rata-rata.

Untuk margin laba bersih
Tahun 2005
                       
              

Tahun 2006
                       
              

Tahun 2007
                       
              

Jika rata-rata industry untuk net profit margin adalah 20%. Pada tahun 2005 s/d 2007 kurang baik walaupun ditahun 2007 terjadi peningkatan namun masih jauh dibawah rata-rata jadi bisa dikatakan keadaan perusahaan kurang baik

Hasil pengembalian investasi (roi)

Tahun 2005
       
       

Tahun 2006
       
       


Tahun 2007
       
       

Perhitungan ROI tahun 2005 menunjukkan bahwa tingkat pengembalian investasi sebesar 2,7%, tahun 2006 ROI menunjukkan penurunan 0,36% dan tahun 2007 lagi meningkat walaupun masih dibawah rata-rata, ini menunjukkan ketidak mampuan perusahaan untuk memperoleh ROI

Hasil pengembalian equitas (Roe)
Tahun 2005
       
       

Tahun 2006
       
       

Tahun 2007
        
       

Perhitungan ROE tahun 2005 menunjukkan bahwa tingkat pengembalian equitas yang diperolehnya 0,56% sedangkan pada tahun 2006 dan tahun 2007 tingkat pengembalian investasi terus bertambah. Ini menunjukkan ketidakmampuan manajemen untuk memperoleh ROE seiring meningkatnya ROIdari tahun ke tahun walauupun masih jauh dibawah rata-rata ROE 40%


4.            Rasio aktivitas
Perputaran piutang (receivable turn over)

Tahun 2005
       
       

Tahun 2006
       
       

Tahun 2007
       
       

Standqr rata-rata perputaran piutang 15 x, tahun 2005 ke tahun 2006 terjadi peningkatan dan tahun 2007 tidak ada peningkatan. Bagi bank yang akan memberikan kredit perlu juga menghitung rata-rata penagihan piutang. Hasil perhitungan ini menunjukkan jumlah hari (berapa hari) piutang tersebut rata-rata tidak dapat ditagih dan rasio ini juga sering disebut days sales collected.

Untuk menghitung hari rata-rata penagihan piutang
 Tahun 2005
       
       

Tahun 2006
       
       

Tahun 2007
       
       

Sebelum menyimpulkan lebih lanjut perlu terlebih dahulu dilihat syarat-syarat kredit yang diberikan apakah 2/10 net 30 atau 2/10 net 60. Jika syarat pertama dan kedua diberlakukan pada tahun 2005 melebih batas jatuh tempo dari syarat pertama dan kedua. Pada tahun 2006 dan 2007 bila syarat pertama diberlakukan maka melewati batas jatuh tempo namun jika syarat yang kedua yang diberlakukan maka hari rata-rata penagihan piutang dapat dikatakan cukup baik.

Perputaran persediaan (inventory turn over)

Tahun 2005
       
       

Rasio ini menunjukkan 4 x sediaan barang dagang diganti dalam satu tahun. Apabila rata-rata industry untuk inventory turn over 20x berarti kurang baik bagi perusahaan  karena perusahaan menahan sediaan yang berlebihan

Tahun 2006
       
       

Rasio ini menunjukkan 6 x sediaan barang dagang diganti dalam satu tahun. Apabila rata-rata industry untuk inventory turn over 20x berarti kurang baik bagi perusahaan  karena perusahaan menahan sediaan yang berlebihan

Tahun 2007
       
       

Rasio ini menunjukkan 4 x sediaan barang dagang diganti dalam satu tahun. Apabila rata-rata industry untuk inventory turn over 20x berarti kurang baik bagi perusahaan  karena perusahaan menahan sediaan yang berlebihan

Kemudian untuk mengetahui berapa hari rata-rata sediaan tersimpan dalam gudang dapat dicari dengan membagikan jumlah hari dalam satu tahun dibagi perputaran persediaan.
Tahun 2005

Perputaran sediaan dari hari rata-rata industry dapat dicari 365/20 adalah 18,2 atau 19 hari ini berarti terdapat keterlambatan 71 hari perubahan sediaan menjadi piutang
    
Tahun 2006

Perputaran sediaan dari hari rata-rata industry dapat dicari 365/20 adalah 18,2 atau 19 hari ini berarti terdapat keterlambatan 41 hari perubahan sediaan menjadi piutang

Tahun 2007

Perputaran sediaan dari hari rata-rata industry dapat dicari 365/20 adalah 18,2 atau 19 hari ini berarti terdapat keterlambatan 71 hari perubahan sediaan menjadi piutang

Perputaran modal kerja (working capital turn over)
Tahun 2005
       
       

Perputaran modal kerta tahun 2005 sebanyak 1,7x, artinya setiap Rp 1,00 modal kerja dapat menghasilkan Rp 1,7 penjualan

Tahun 2006
       
       

Perputaran modal kerta tahun 2005 sebanyak  2x, artinya setiap Rp 1,00 modal kerja dapat menghasilkan Rp 2 penjualan

Tahun 2007
       
       

Perputaran modal kerta tahun 2005 sebanyak  2x, artinya setiap Rp 1,00 modal kerja dapat menghasilkan Rp 2 penjualan

Fixed assets turn over
Tahun 2005
       
       

Perputaran aktiva teta[ tahun 2005 sebanyak 0.9x, artinya setiap Rp 1,00 aktiva tetap dapat menghasilkan Rp 0,9 penjualan

Tahun 2006
       
       

Perputaran aktiva teta[ tahun 2005 sebanyak 1.1x, artinya setiap Rp 1,00 aktiva tetap dapat menghasilkan Rp 1,1 penjualan

Tahun 2007
       
       

Perputaran aktiva teta[ tahun 2005 sebanyak 1.5x, artinya setiap Rp 1,00 aktiva tetap dapat menghasilkan Rp 1,5 penjualan

Kondisi perusahaan sangat tidak menggembirakan walaupun tiap tahunnya terjadi peningkatan dari tahun ke tahun tapi masih jauh dari rata-rata standar industry untuk total assets turn over yaitu 5x berarti perusahaan belum mampu memaksimalkan kapasitas aktiva tetap yg dimiliki.




Total assets turn over
Tahun 2005
       
       

Perputaran total aktiva tahun 2005 sebanyak 0.6x, artinya setiap Rp 1,00 aktiva tetap dapat menghasilkan Rp 0,6 penjualan

Tahun 2006
       
       

Perputaran total aktiva tahun 2005 sebanyak 0.7x, artinya setiap Rp 1,00 aktiva tetap dapat menghasilkan Rp 0,7 penjualan

Tahun 2007
       
       

Perputaran total aktiva tahun 2005 sebanyak 0.8x, artinya setiap Rp 1,00 aktiva tetap dapat menghasilkan Rp 0,8 penjualan

Kondisi perusahaan sangat tidak menggembirakan walaupun dari tahun ke tahun meningkat namun masih sangat jauh dibawah standar rata-rata untuk total assets turn over yaitu 2x artinya perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki. Perusahaan diharapkan meningkatkan lagi penjualannya atau mengurangi sebagian sebagian aktiva yang kurang produktif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar