Sabtu, 12 Januari 2013

MELUKIS SEBAGAI MEDIA TERAPI

Melukis sebagai Media Terapi

Selama ribuan tahun yang lalu, manusia telah menggunakan elemen seni dalam berbagai bentuk sebagai upaya untuk mencapai kesembuhan jiwa dan raga. Bangsa Yunani kuno, menggunakan keberadaan teater seni yang mementaskan drama satir sebagai sesuatu yang membawa efek katarsis, yaitu membersihkan atau menyembuhkan jiwa. Elemen inilah, yang pada prosesnya berperan penting dalam terapi seni. Terapi seni secara harafiah dapat diartikan sebagai penggabungan dua buah disiplin ilmu, yaitu antara ilmu seni dan psikologi. Psikologi Seni menelaah suatu kegiatan psiko-fisis tertentu dari manusia dan pelaksanaan kegiatan itu pada penciptaan karya seni. Misalnya menelaah segenap proses kegiatan mencipta yang dilakukan oleh seniman untuk menghasilkan sesuatu karya seni yang indah serta bentuk dan ciri-ciri karya yang demikian. Juga ditelaah faktor-faktor sosial psikologis yang menyangkut proses penilaian seni dan dorongan batin dalam seni. Seni dapat memberikan berbagai penafsiran yang nyata terhadap macam-macam gejala kejiwaan dalam diri manusia seperti misalnya gairah, harapannya, khayalannya, atau kekurangan pribadinya. Psikologi seni mengacu pada seni pada seumumnya. Dalam lingkungannya kemudian berkembang psikologi dari jenis-jenis seni tertentu seperti misalnya psikologi kesusasteraan, psikologi musik, dan psikologi seni penglihatan yang meliputi seni lukis dan seni pahat.
Yohanita T.P.L, S.Psi pelaku konseling bagi anak berkebutuhan khusus saat dihubungi mengatakan, psikologi seni selain dapat dirinci menurut jenis-jenis seni dapat pula dibedakan menurut teori-teori psikologis yang digunakan untuk menerangkan sesuatu persoalan yang muncul. “Misalnya dengan menerapkan teori sikap dan psikologi instropeksi, Edward Bullough melakukan penyelidikan terhadap kesadaran estetis. Psikoanalisis dengan berbagai teorinya berusaha memberikan penjelasan bahwa karya seni sebagaimana halnya dengan impian dan mitologi merupakan perwujudan dari keinginan manusia terdalam yang memperoleh kepuasan lebih besar dalam bentuk seni ketimbang dalam penghidupan sehari-hari,” jelasnya.
Dalam perkembangan psikologi seni selanjutnya, penggunaan hasil-hasil ilmiah dari psikologi kanak-kanak dianggap dapat memberikan keterangan-keterangan yang memadai mengenai pertumbuhan dorongan batin dalam mencipta seni.
Sebuah teori tentang sumber seni ialah teori permainan yang dikemukakan oleh Penyair Johan Schiller (1759-1805) dan kemudian diperkuat oleh filsuf Inggris Herbert Spencer (1820-1903). Menurut Schiller, asal mula seni adalah dorongan batin untuk bermain-main yang ada dalam diri seseorang. Seni merupakan semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubungan dengan adanya kelebihan energi yang harus disalurkan ke luar.
Bagi Spencer permainan itu berperanan untuk mencegah kemampuan-kemampuan mental manusia menganggur dan selanjutnya menciut karena disia-siakan. Seseorang yang semakin meningkat taraf kehidupannya tidak memakai habis energinya untuk keperluan sehari-hari. Kelebihan tenaga ini lalu menciptakan kebutuhan dan kesempatan untuk melakukan rangkaian permainan yang imaginatif dan kegiatan hiburan yang akhirnya menghasilkan karya seni. “Ada lukisan yang menggambarkan kesedihan, keputus-asaan, kesepian, kemarahan, semangat hidup, ambisi hingga bagaimana manusia meraih impian-impian hidupnya. Semua terbingkai dengan sempurna dalam sebuah lukisan. Lebih tepatnya membingkai jiwa-jiwa manusia dalam sebuah lukisan,” ujar Yohanita yang juga sering menghasilkan karya rupa.
Tak heran seringkali psikolog dan psikiater merekomendasikan klien yang mengalami kasus stres, depresi, paranoid, skizofrenia dan gangguan kejiwaan yang lain ke terapi lukis. Melukis sebagai media terapi. Sebenarnya tidak hanya lukis saja yang bisa sebagai media terapi. Ada banyak seni yang bisa mereka pergunakan sebagai media, seperti : seni patung, seni batik, seni musik (piano, biola, gitar), seni menulis, dll. “Didalam terapi melukis mereka akan belajar menarik garis, bentuk, warna, komposisi ruang, dll. Terapi melukis akan mampu menggali tingkat intelegensi, tingkat emosional, tingkat konsentrasi, dan kemampuan berpikir mereka. Sehingga mereka akan diajak menyadari masalah-masalah mereka sambil bereksplorasi dan berkreativitas dalam permainan kuas dan cat. Harapannya, mereka nanti akan menemukan semangat baru, inspirasi baru, impian-impian baru, akan menemukan solusi yang tepat pada masalah dirinya dan mampu memulai lembaran baru yang lebih baik. Dan mereka pun bisa terbebas dari gangguan kejiwaannya,” tutur Yohanita yang sering menangani anak-anak autis.


1 komentar: