Minggu, 13 Januari 2013

PERI BUNGA SERUNI



Dahulu, di tepi sungai yang bernama Tayin, ada seorang petani yang bernama Aniu. Dia sangat miskin, ketika berumur 7 tahun ayahnya sudah meninggal, ibunya bekerja keras menjahit baju orang lain, karena keadaan hidup yang susah, ibunya selalu menangis sehingga matanya ibu menjadi kabur.
Ketika Aniu berumur 13 tahun, dia berkata kepada ibunya, “Mama, matamu kurang bagus mulai sekarang jangan menjahit siang dan malam lagi, saya sudah besar, sekarang saya sudah bisa bekerja mencari nafkah untuk kita berdua!.” Lalu dia pergi bekerja dirumah seorang kaya, mereka berdua, ibu dan anak akhirnya bisa hidup agak lumayan.
Dua tahun kemudian, mata ibunya menjadi buta. Aniu berpikir walau bagaimanapun dia harus mencari uang mengobati mata ibunya. Oleh sebab itu disiang hari bekerja di rumah orang kaya, pagi-pagi buta dan malam hari dia membuka lahan di hutan dan menanam sayur-sayuran, dengan uang menjual sayur dia membeli obat untuk mengobati mata ibunya,  walau begitu mata ibunya belum benar-benar sembuh.
Pada suatu malam, ketika tertidur, Aniu bermimpi, dalam mimpinya dia melihat ada seorang gadis cantik membantunya menanam sayur, dan memberitahu kepadanya, “Di sebelah barat sungat Tayin ada sebuah kolam bunga, didalam kolam tersebut ada sejenis bunga seruni putih, bunga ini bisa mengobati mata ibumu, tetapi bunga ini hanya berbunga di tanggal 9 September, pada saat itu engkau petiklah bunga tersebut dimasak dengan air diberikan kepada ibumu minum, maka penyakit matanya akan sembuh.”
Maka tepat pada tanggal 9 September, dia pergi ke kolam bunga seperti petunjuk dalam mimpinya. Dikolam tersebut tumbuh rumput-rumput liar, hanya ada bunga seruni yang berwarna kuning, tidak ada bunga seruni berwarna putih, setelah dia mencari sepanjang pagi.
Akhirnya Aniu menemukan sebuah pohon bunga seruni putih yang sedang berbunga, bunga seruni ini sangat istimewa, ditangkainya terdapat sembilan kuntum bunga, delapan kuntum masih belum mekar, hanya sekuntum yang mekar.
Aniu mencabut pohon bunga tersebut beserta akarnya, membawa pulang kerumahnya ditanam di pekarangan rumahnya. Setelah dengan rajin setiap hari merawatnya, akhirnya ke delapan kuntum bunga tersebut mulai mekar, bunganya sangat cantik dan wangi.
Lalu dia setiap hari memetik satu kuntum dimasak dengan air dan diberikan kepada ibunya minum, ketika meminum pada kuntum bunga yang ke 7 mata ibunya mulai sembuh samar-samar sudah bisa melihat bayangan.
Kabar bunga seruni putih yang dapat menyembuhkan penyakit mata ibunya tersebar di kotanya, seluruh penduduk kota beramai-ramai datang menyaksikan pohon bunga seruni ini. Kabar ini juga tersebar sampai di telinga orang kaya tempat Aniu bekerja. Orang kaya memanggil Aniu ke hadapannya, memerintah Aniu membawa bunga tersebut ditanam di halaman rumahnya.
Aniu tidak mau, orang kaya ini lalu memerintah beberapa orang pengawalnya datang ke rumah Aniu memaksa merebut bunga tersebut. Ketika terjadi perebutan batang pohon bunga patah, melihat pohon bunga sudah patah akhirnya pengawal-pengawal tersebut pergi dari rumah Aniu. Aniu sangat sedih, dia duduk disamping pohon bunga yang patah tersebut menangis sampai malam hari, sampai tengah malam dia belum meninggalkan tempat tersebut.
Setelah tengah malam, didepan matanya terdapat cahaya yang terang, dia melihat seorang wanita cantik yang dahulu didalam mimpi datang dan duduk disebelahnya. Gadis cantik ini membujuknya: “Aniu, sifat baktimu telah terbukti, engkau jangan sedih lagi, pulanglah tidur!.”
Aniu berkata, “pohon bunga ini telah menyelamatkan ibuku, sekarang dia telah patah dan mati, bagaimana saya bisa tidak sedih?.  Gadis itu berkata, “Walaupun batangnya sudah patah tetapi akar bunga seruni ini masih ada, dia belum mati. Engkau hanya perlu menggorek akarnya, dipindahkan ketempat lain, maka dia akan tumbuh dan berbunga lagi.”
Aniu bertanya lagi, “Nona, sebenarnya engkau ini siapa ya? Tolong beritahu kepada saya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepadamu.” Gadis ini berkata, “ Saya adalah peri dari bunga seruni yang ada di surga, sengaja datang menolongmu, saya tidak memerlukan balas budimu. Asalkan engkau dapat merawat bunga seruni ini dengan baik sesuai dengan puisi bunga seruni ini.”
Lalu peri bunga seruni ini membaca puisi tersebut, “Bulan Maret dan April menanam, bulan Mei menyiram, bulan Juni memupuk, bulan Juli dan Agustus membersihkan rumput, bulan September bunga akan bermekaran.”  Setelah berkata demikian menghilang dari hadapannya.
Aniu mengerti maksud dari puisi tersebut, sesuai dengan pesan peri bunga seruni, dia mulai menanam kembali bunga ini dibulan Maret dan April, di bulan Mei dia rajin menyirami, bulan Juni dan Juli rajin memupuki, bulan Agustus mencabut rumput-rumput liar, benar saja di bulan September bunga seruni bermekaran sangat indah.
Akhirnya Aniu juga mengajari trik menanam bunga seruni ini kepada seluruh penduduk miskin kampungnya, oleh sebab itu didaerah tersebut mulai banyak yang menanam bunga seruni. Karena Aniu menemukan bunga seruni putih ini di bulan September, maka bulan tersebut dijadikan pameran bunga seruni.
Pada pameran itu masyarakat dapat melihat bunga seruni yang indah sambil menikmati minuman bunga seruni serta anggur bunga seruni dan makanan lain yang diolah dari bunga seruni. Tuhan sangat baik, orang baik tentu mendapat balasan baik!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar